Dolar AS Naik Tipis, Pasar Ragu Upaya Damai Timur Tengah
Pergerakan Dolar AS cenderung terbatas meskipun sentimen safe haven kembali muncul. Pelaku pasar tampak semakin skeptis terhadap prospek perdamaian di Timur Tengah, sehingga respons terhadap perkembangan terbaru menjadi tidak terlalu agresif.
Pada paruh awal sesi New York (25/Maret), Indeks Dolar AS (DXY) naik terbatas ke kisaran 99.50. Permintaan terhadap aset aman meningkat di tengah keraguan pasar terhadap klaim kemajuan negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran.
![]()
Presiden AS, Donald Trump, terus menyampaikan bahwa pembicaraan dengan Iran menunjukkan perkembangan positif. Namun, pernyataan tersebut berulang kali dibantah oleh pihak Teheran. Di saat yang sama, konflik militer antara Israel dan Iran masih berlangsung dengan aksi saling serang yang terus berlanjut di kawasan.
Juru bicara militer Iran, Ebrahim Zolfaqari, bahkan menyindir pernyataan Trump dengan menyebutnya sebagai upaya menutupi kegagalan, bukan hasil kesepakatan nyata.
Meski pasar saham Wall Street masih mempertahankan penguatan yang dipicu optimisme sehari sebelumnya, pelaku pasar valuta asing justru menunjukkan sikap lebih hati-hati. Hal ini tercermin dari penguatan dolar yang relatif terbatas.
Menurut Shaun Osborne dari Scotiabank, ketahanan dolar menunjukkan bahwa pasar forex memiliki pandangan berbeda dibandingkan dengan pasar saham dan obligasi. Jika benar terdapat kemajuan signifikan menuju perdamaian, seharusnya premi terhadap dolar mulai terkikis.
Sejumlah analis juga mencatat bahwa mayoritas pasangan mata uang utama bergerak dalam rentang sempit dalam beberapa hari terakhir. Kondisi ini mengindikasikan banyak trader memilih menunggu kepastian arah pasar sebelum mengambil posisi besar, atau mulai jenuh terhadap dinamika konflik yang terus berubah.
Di sisi lain, ekspektasi terhadap kebijakan moneter AS turut memengaruhi pergerakan dolar. Peluang kenaikan suku bunga oleh The Fed pada akhir tahun kini menurun drastis. Berdasarkan Fed Funds Futures, probabilitas kenaikan 25 basis poin pada pertemuan Desember hanya sekitar 26%, jauh turun dari hampir 70% pada pekan sebelumnya.
Sementara itu, beberapa bank sentral utama lainnya justru diperkirakan memiliki ruang lebih besar untuk menaikkan suku bunga. Perbedaan prospek kebijakan ini berpotensi membatasi penguatan dolar AS dalam waktu dekat.