Dolar Australia Gagal Menguat Meski Suku Bunga RBA Naik

Tatiana Park 05 May 2026 7 views

Kenaikan suku bunga RBA belum mampu mengangkat kinerja Dolar Australia. Pernyataan kebijakan terbaru bank sentral tersebut justru menekan Aussie terhadap dolar AS dalam jangka pendek.

AUD/USD turun sekitar 0.35% hingga menyentuh level terendah di 0.7135 pada perdagangan sesi Asia hari Rabu (5 Mei). Meski Reserve Bank of Australia (RBA) menaikkan suku bunga sesuai ekspektasi, pergerakan mata uang lebih dipengaruhi oleh outlook kebijakan ke depan dan ketidakpastian geopolitik global.

Dolar Australia gagal menguat

Dalam keputusan terbarunya, RBA menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin menjadi 4.35% dengan hasil voting 8-1. Level ini menyamai puncak suku bunga setelah periode pandemi COVID-19.

Namun, nada pernyataan bank sentral cenderung dovish. Dewan Gubernur mengindikasikan bahwa kebijakan moneter saat ini dinilai sudah cukup untuk merespons kondisi ekonomi, sehingga peluang kenaikan lanjutan dalam waktu dekat akan lebih terbatas.

Komentar tersebut langsung menekan dolar Australia. Meski demikian, ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga belum sepenuhnya hilang. Berdasarkan data pasar uang, peluang kenaikan tambahan sebesar 25 basis poin masih berada di kisaran 20% untuk bulan Juni dan bahkan mencapai 100% pada September.

Para analis menilai arah kebijakan suku bunga Australia ke depan sangat bergantung pada pergerakan harga minyak dan dampaknya terhadap inflasi. Konflik berkepanjangan di Selat Hormuz berpotensi mendorong lonjakan harga energi yang pada akhirnya dapat memaksa RBA kembali mengetatkan kebijakan.

Harry Murphy Cruise dari Oxford Economics Australia menyebutkan bahwa jika jalur pelayaran di Hormuz kembali normal dalam waktu dekat, RBA kemungkinan akan menahan suku bunga. Namun jika penutupan berlangsung lebih lama, opsi tersebut menjadi semakin terbatas.

"Semakin lama Selat tetap tertutup, semakin besar tekanan bagi RBA untuk kembali menaikkan suku bunga guna mengendalikan inflasi," ujarnya.

Sementara itu, situasi geopolitik masih belum menunjukkan tanda-tanda mereda. Iran mengklaim telah menyerang kapal perang AS dengan misil, tetapi pihak Amerika Serikat membantahnya. AS justru menyatakan tetap menjalankan blokade di kawasan tersebut.

Kembali Ke List Berita

Berita Broker Terpopuler

lihat semua