Perang Iran-AS Mengguncang Pasar, Franc Swiss Kalahkan Dolar

Tatiana Park 02 Mar 2026 79 views

Menyusul pecahnya konflik bersenjata di Timur Tengah, pasar keuangan global dibuka dengan tensi tinggi pada awal pekan ini. Dolar AS mencatat penguatan moderat pada sesi Asia, namun Franc Swiss justru tampil sebagai mata uang safe haven yang paling diburu investor.

Dolar vs Franc Swiss

Eskalasi militer yang terjadi sepanjang akhir pekan memicu volatilitas tajam di pasar komoditas dan valuta utama pada perdagangan Senin pagi (2/Maret).

Sebelumnya, Amerika Serikat bersama Israel melancarkan serangan ke Iran yang menewaskan pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, beserta sejumlah pejabat senior lainnya.

Sebagai balasan, Iran menyerang pangkalan militer AS dan Israel di beberapa negara Timur Tengah serta menutup Selat Hormuz. Langkah ini berdampak besar terhadap perdagangan energi global, dengan sekitar 150 kapal tanker minyak dan gas tertahan di luar jalur sempit tersebut. Armada laut Iran juga dilaporkan menyerang kapal-kapal yang mencoba menembus blokade.

Penutupan Selat Hormuz langsung memicu kekhawatiran serius terhadap pasokan energi dunia. Harga minyak mentah Brent melonjak tajam ke USD80.50 per barel pada pembukaan pasar, naik signifikan dari posisi penutupan Jumat di USD73.68.

Jason Wong, ahli strategi di BNZ, menilai reaksi awal pasar mencerminkan peningkatan sikap menghindari risiko. Ia menekankan ketidakpastian durasi konflik, potensi lonjakan lanjutan harga minyak, serta lamanya penutupan Selat Hormuz sebagai faktor yang membuat pasar bergerak defensif.

Trump sendiri mengatakan kepada Daily Mail bahwa operasi militer terhadap Iran diperkirakan akan berlangsung sekitar empat minggu. Pernyataan ini semakin mempertebal kehati-hatian pelaku pasar global akan kemungkinan meluasnya konflik di Timur Tengah dan keterlibatan lebih banyak negara.

 

CHF Bersinar Saat Yen, Euro, dan AUD Tertekan

Lonjakan harga energi akibat perang AS-Iran kali ini menjadi tekanan bagi mata uang negara pengimpor minyak. Yen Jepang dan Euro melemah, dengan USD/JPY naik sekitar 0.3% dan EUR/USD turun mendekati 0.4% pada saat laporan ini disusun.

Tekanan jual juga melanda mata uang berisiko tinggi seperti dolar Australia dan Pound Sterling. AUD/USD melemah sekitar 0.6%, sementara GBP/USD terkoreksi sekitar 0.5%. Sebaliknya, pasangan USD/CHF dan EUR/CHF justru turun, menandakan penguatan Franc Swiss. Kondisi ini menunjukkan bahwa pasar saat ini lebih memfavoritkan Franc Swiss dibandingkan dengan Dolar AS sebagai safe haven utama.

Dalam catatan riset yang dikutip oleh Reuters, Wells Fargo menyoroti posisi Euro yang kian terjepit. Bank tersebut menilai Eropa menghadapi tantangan besar menjelang musim pengisian ulang cadangan gas, karena tingkat penyimpanan yang rendah memaksa Uni Eropa membeli energi dalam jumlah besar di tengah risiko lonjakan harga.

Kembali Ke List Berita

Berita Broker Terpopuler

lihat semua