Pound Jatuh: Ekspektasi Rate Cut dan Risiko Politik Membayangi
Poundsterling mengalami pelemahan signifikan seiring meningkatnya ketidakpastian ekonomi dan politik di Inggris. Di satu sisi, sentimen bearish datang dari prospek pemotongan suku bunga BoE yang lebih tinggi. Di sisi lain, PM Inggris berpotensi lengser akibat terungkapnya berkas Epstein.
Pada perdagangan Kamis (5 Februari), mata uang Inggris tercatat merosot lebih dari 0.6% terhadap Dolar AS maupun Euro. Meski pasangan GBP/USD sempat mencoba bangkit pada pembukaan sesi New York, tekanan jual masih mendominasi pergerakan pasar.
Pelemahan ini terjadi di tengah perubahan ekspektasi kebijakan moneter Bank of England (BoE) serta memanasnya situasi politik domestik akibat mencuatnya kembali berkas terkait Jeffrey Epstein.
![]()
Sinyal Pelonggaran Kebijakan BoE
BoE mempertahankan suku bunga acuannya pada pertemuan kebijakan terbaru, sesuai dengan proyeksi mayoritas pelaku pasar. Namun, arah kebijakan ke depan dinilai semakin condong ke pelonggaran moneter.
Dalam pernyataan resminya, BoE menilai tekanan inflasi diperkirakan terus mereda, seiring melemahnya permintaan domestik dan pasar tenaga kerja. Inflasi diproyeksikan kembali ke target 2% pada April mendatang, sehingga mempertahankan suku bunga tinggi dinilai tidak lagi mendesak.
Bank sentral juga menegaskan bahwa risiko inflasi yang bersifat persisten kini semakin menurun, sementara perlambatan ekonomi justru dapat menimbulkan tekanan inflasi dari sisi permintaan yang melemah. Dengan mempertimbangkan kondisi tersebut, BoE membuka peluang penurunan suku bunga lanjutan.
Sejalan dengan itu, BoE merevisi turun sejumlah proyeksi ekonomi. Pertumbuhan ekonomi Inggris pada 2026 kini diperkirakan hanya mencapai 0.9%, lebih rendah dari proyeksi sebelumnya sebesar 1.2%. Sementara itu, tingkat pengangguran diperkirakan terus meningkat hingga periode 2028.
Perubahan sikap BoE ini memicu penyesuaian agresif pada ekspektasi pasar. Instrumen pasar uang kini sepenuhnya mencerminkan peluang pemangkasan suku bunga sebesar 50 basis poin hingga akhir tahun, meningkat dari perkiraan sebelumnya di sekitar 35 basis poin. Beberapa analis bahkan memperkirakan pemangkasan suku bunga bisa dimulai pada Maret dan berlanjut pada Juni 2026, terutama jika data ekonomi Inggris terus mengecewakan.
Isu Epstein Guncang Politik Inggris
Selain faktor moneter, Poundsterling juga terseret oleh ketidakpastian politik dalam negeri. Perdana Menteri Inggris Keir Starmer mengakui di parlemen bahwa dirinya telah mengetahui hubungan pertemanan antara Peter Mandelson dan Jeffrey Epstein sebelum menunjuk Mandelson sebagai Duta Besar Inggris untuk Amerika Serikat pada tahun lalu.
Pengakuan tersebut memicu gelombang kritik dan spekulasi politik. Data dari Polymarket menunjukkan peluang sebesar 63% bahwa Starmer berpotensi lengser dari jabatannya sebelum Desember 2026.
Tekanan terhadap kepemimpinan Starmer dinilai semakin besar, seiring merosotnya tingkat dukungan publik terhadap Partai Buruh. Sejumlah analis menilai bahwa jika terjadi pergantian kepemimpinan, arah kebijakan ekonomi Inggris berisiko mengalami perubahan.
Kasus Epstein sendiri kembali mencuat setelah Departemen Kehakiman AS secara bertahap merilis dokumen-dokumen terkait jaringan dan relasi pelaku perdagangan manusia tersebut. Berkas-berkas itu memicu spekulasi luas mengenai keterlibatan tokoh-tokoh berpengaruh dunia.
Dalam konteks Mandelson, tuduhan dinilai lebih serius dibandingkan tokoh lain. Sejumlah bukti menunjukkan adanya aliran dana dari Epstein kepada Mandelson dan pasangannya, serta dugaan pemberian informasi rahasia pemerintah kepada Epstein pada periode 2009-2010. Isu ini semakin memperkeruh stabilitas politik Inggris dan menambah tekanan terhadap nilai tukar Poundsterling.