EUR/USD Melemah Akibat Lonjakan Harga Energi Global

Tatiana Park 04 Mar 2026 29 views

Kenaikan tajam harga komoditas energi kembali memberi tekanan, kali ini terhadap Euro. Lonjakan ini dinilai menguntungkan Dolar AS, namun menjadi beban berat bagi mata uang tunggal Eropa.

Pasangan EUR/USD tergelincir signifikan sejak awal pekan dan sempat menyentuh level 1.1530 pada perdagangan kemarin—posisi terendah sejak November 2025. Konflik yang melibatkan Iran telah memicu lonjakan harga energi dunia, memperbesar risiko terhadap stabilitas ekonomi kawasan Euro yang selama ini bergantung pada impor energi.

EUR/USD melemah

Upaya pemulihan yang sempat terlihat pada sesi New York tadi malam tidak bertahan lama. Memasuki sesi Asia hari ini (4/Maret), tekanan kembali muncul dengan EUR/USD bergerak di kisaran 1.1600, sementara EUR/JPY turun di bawah 183.00. Di antara pasangan utama, hanya EUR/GBP yang relatif lebih stabil, mengingat Inggris juga menghadapi dampak kenaikan harga bahan bakar.

Sepanjang pekan ini, harga minyak mentah jenis Brent Crude telah melonjak sekitar 10 dolar AS dibandingkan pekan sebelumnya. Sementara itu, harga gas acuan di Eropa meroket sekitar 70% dalam periode yang sama. Kombinasi kenaikan tersebut membawa konsekuensi serius bagi pergerakan Euro.

Dalam jangka pendek, negara-negara Zona Euro harus mengalokasikan dana lebih besar untuk membayar kebutuhan energi. Karena transaksi energi global umumnya menggunakan Dolar AS, lonjakan harga otomatis meningkatkan permintaan terhadap greenback dan menekan EUR/USD.

George Saravelos, Kepala Riset Valuta Asing Global di Deutsche Bank, menilai faktor energi menjadi inti dari pelemahan ini. Ia menyebut gangguan pasokan sebagai bentuk "pajak langsung" bagi konsumen Eropa yang harus membayar produsen luar negeri dalam denominasi dolar.

Di sisi lain, kekhawatiran terhadap inflasi kembali mencuat. Jika tekanan harga bertahan, European Central Bank (ECB) bisa saja dipaksa mempertimbangkan kenaikan suku bunga, meski sebelumnya tidak berencana mengubah kebijakan tahun ini.

Analis dari ING menyatakan bahwa posisi ECB yang sebelumnya dinilai "aman" kini mulai dipertanyakan. Mereka memperingatkan potensi kenaikan suku bunga dapat mengganggu strategi carry trade serta memperlebar spread obligasi pemerintah Zona Euro (EGB) secara signifikan.

Dengan kombinasi tekanan energi, risiko inflasi, dan ketidakpastian kebijakan moneter, Euro untuk sementara waktu masih berada dalam posisi defensif di pasar valuta asing.

Kembali Ke List Berita

Berita Broker Terpopuler

lihat semua