Ketegangan di Iran Tak Kunjung Cair, Dolar AS Semakin Kuat
Eskalasi konflik Iran kembali mendorong penguatan safe haven Dolar AS, seiring meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap krisis energi global yang membayangi prospek ekonomi sejumlah negara besar.
Indeks Dolar AS (DXY) kembali menguat dan bergerak di sekitar level 100.00 pada sesi New York hari ini (27 Maret). Permintaan terhadap aset safe haven meningkat tajam di tengah ketidakpastian konflik Iran yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda.

Meski Presiden AS Donald Trump mengumumkan penundaan serangan terhadap fasilitas energi Iran selama 10 hari hingga 6 April, pasar tampaknya tidak terlalu merespons optimisme tersebut. Padahal, Trump beralasan bahwa negosiasi berjalan positif.
Ketegangan justru terus meningkat di lapangan sebagaimana dilaporkan oleh The Wall Street Journal dan Axios. Pentagon dikabarkan tengah mempertimbangkan pengiriman tambahan hingga 10,000 pasukan darat ke kawasan konflik. Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, juga menegaskan bahwa serangan terhadap Iran akan terus berlanjut tanpa pelonggaran.
Serangan terbaru dilaporkan menargetkan infrastruktur strategis Iran, termasuk fasilitas nuklir di Khondab dan pabrik pengolahan uranium di Ardakan. Pemerintah Iran menyatakan tidak terjadi kebocoran radiasi, namun Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) mengeluarkan ancaman balasan terhadap perusahaan-perusahaan yang memiliki keterkaitan dengan AS dan Israel di kawasan Teluk.
Rangkaian perkembangan tersebut semakin mengikis harapan akan tercapainya perdamaian dalam waktu dekat. Investor pun cenderung melepas mata uang negara-negara pengimpor energi dan beralih ke Dolar AS sebagai aset lindung nilai.
Menurut Carol Kong dari Commonwealth Bank of Australia, konflik ini berpotensi berlangsung lama dan akan terus menopang dominasi Dolar AS. Ia menilai kenaikan harga minyak akibat konflik berkepanjangan akan semakin menekan mata uang seperti Yen Jepang dan Euro. Saat ini saja, EUR/USD turun ke kisaran 1.1500, sementara USD/JPY terus naik hingga menembus level psikologis 160.00; pergerakan yang memicu spekulasi intervensi dari otoritas Jepang.
Lee Hardman dari MUFG menilai pasar kini tengah menguji keseriusan pemerintah Jepang dalam menjaga stabilitas Yen, mengingat pernyataan sebelumnya yang membuka peluang intervensi jika volatilitas meningkat.
Dampak krisis energi juga dirasakan oleh negara maju lainnya. Dolar Selandia Baru dan Dolar Australia melemah ke level terendah dalam beberapa bulan terakhir, setelah pejabat bank sentral masing-masing negara memperingatkan bahwa konflik Iran yang berkepanjangan dapat menekan pertumbuhan ekonomi domestik.