FOMC Lebih Netral, Pergerakan Dolar AS Tertahan
Keputusan terbaru FOMC memberi sinyal perubahan arah kebijakan dari dovish menuju netral. Hal ini menjaga pergerakan Dolar AS stabil dalam kisaran terbatas.
Hasil rapat FOMC bulan ini menunjukkan nada yang sedikit lebih hawkish dibandingkan sebelumnya, meskipun masih membuka peluang untuk satu kali penurunan suku bunga hingga akhir tahun. Menyikapi perkembangan tersebut, Indeks Dolar AS (DXY) pada perdagangan hari ini (19/Maret) cenderung bergerak sideways, bertahan dalam rentang yang telah terbentuk sejak pekan lalu.
![]()
Dalam pertemuan tersebut, FOMC memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan di kisaran 3.5% hingga 3.75%. Namun, kekhawatiran terkait dampak konflik di Iran mulai memengaruhi pandangan para pembuat kebijakan, khususnya terkait urgensi pelonggaran moneter lanjutan.
Proyeksi terbaru melalui dot plot mengindikasikan bahwa 14 dari 19 anggota FOMC memperkirakan tidak ada perubahan suku bunga atau hanya satu kali pemangkasan sepanjang tahun 2026. Pertimbangan utama berasal dari potensi lonjakan inflasi dan meningkatnya ketidakpastian ekonomi akibat konflik di Timur Tengah.
Selain itu, FOMC juga memperbarui penilaian terhadap kondisi pasar tenaga kerja. Jika sebelumnya disebut menunjukkan tanda-tanda stabilisasi, kini dinilai relatif tidak banyak berubah. Proyeksi inflasi untuk 2026 pun direvisi naik dari 2.5% menjadi 2.7%.
Ketua The Fed, Jerome Powell, menyoroti bahwa gangguan rantai pasok akibat konflik Iran telah mendorong kenaikan ekspektasi inflasi jangka pendek, terutama karena lonjakan harga energi. Meski demikian, ia menilai masih terlalu dini untuk menyimpulkan risiko stagflasi. The Fed akan tetap mengandalkan data ekonomi yang masuk guna menentukan arah kebijakan selanjutnya.
Secara keseluruhan, hasil rapat ini menandai pergeseran dari sikap dovish ke arah yang lebih netral. Reaksi pasar sempat mendorong penguatan Dolar AS seiring meningkatnya spekulasi bahwa pemangkasan suku bunga tambahan mungkin tidak terjadi tahun ini. Namun, para analis mengingatkan pentingnya mencermati data ekonomi berikutnya.
Christopher Hodge, Kepala Ekonom AS di Natixis New York, menilai bahwa pernyataan FOMC membuka ruang interpretasi yang luas. Menurutnya, respons kebijakan The Fed ke depan akan sangat dipengaruhi oleh dampak kenaikan harga energi terhadap inflasi inti serta tekanan terhadap pertumbuhan ekonomi.
Ia menambahkan bahwa lonjakan harga bahan bakar berpotensi menekan belanja konsumen dan memberikan dampak yang belum pasti terhadap pasar tenaga kerja.
Natixis sendiri masih memperkirakan dua kali pemangkasan suku bunga tahun ini, meskipun mengakui bahwa risiko inflasi yang lebih tinggi dapat mendorong penundaan kebijakan tersebut.
Di sisi lain, Powell juga menyatakan kesiapannya untuk tetap berada di Dewan Gubernur hingga penggantinya resmi dikonfirmasi oleh Kongres AS. Ia bahkan membuka kemungkinan untuk menjabat sementara sebagai ketua (chair pro tem) apabila proses transisi belum rampung, guna memastikan independensi bank sentral tetap terjaga.